Rabu, 13 Juni 2012

CARA TEPAT MINTA NAIK GAJI

Amelia Ayu Kinanti
Jika Anda merasa perusahaaan tempat Anda bekerja belum memberikan apresiasi yang cukup terhadap kinerja, meminta kenaikan gaji bukanlah hal yang salah. Namun ada sopan santunnya. Agar tak salah melangkah, coba ikuti kiat-kiat berikut.
MENCARI TAHU PERATURAN PERUSAHAAN.  Yang paling penting dilakukan pertama kali adalah mencari tahu peraturan perusahaan. Kapan waktu perusahaan menaikkan gaji karyawan? Parameter apa yang digunakan untuk menaikkan gaji karyawan?
MEMBANDINGKAN GAJI.  Setelah mengenal peraturan perusahaan, yang harus Anda lakukan adalah melakukan perbandingan gaji dengan orang lain yang memiliki tanggung jawab serta jabatan yang sama dengan Anda dari perusahaan lain. Dengan ini, Anda dapat menemukan rentang gaji yang tepat untuk kemudian diajukan kepada atasan.
DAFTAR KEBERHASILAN.  Anda harus memiliki alasan yang kuat saat meminta kenaikan gaji. Untuk itu, susunlah daftar keberhasilan dan pencapaian Anda dalam kerja. Rangkumlah hal tersebut dalam sebuah dokumentasi yang rapi, jelas serta menarik. Sehingga atasan juga mengetahui alasan jelas untuk menaikkan gaji Anda.
ATUR PERTEMUAN.  Setelah semua persiapan matang, aturlah jadwal pertemuan dengan atasan. Cari waktu yang tepat. Jangan sampai Anda mengatur jadwal saat pekerjaan tengah banyak, atau perusahaan diguncang masalah. Meminta gaji di saat suasana hati atasan buruk hanya akan membuat Anda tertimpa masalah.
LANGSUNG PADA POKOK MASALAH.  Saat pertemuan, utarakan maksud Anda dengan jelas, jangan bertele-tele karena malah bisa menimbulkan makna yang bias. Komunikasikan secara profesional namun santai. Jangan lupa juga untuk menyebutkan nominal jelas kenaikan gaji yang Anda minta. Hal ini dapat berupa persentase ataupun jumlah dalam rupiah.
JANGAN MENGANCAM.  Meminta kenaikan gaji tak perlu dengan cara mengintimidasi. Misalnya menyombongkan diri bahwa Anda mampu diterima di perusahaan lain dengan gaji yang lebih besar. Ini malah hanya membuat Anda terlihat buruk di hadapan atasan. 
Bagaimana? Siap menggapai kesempatan?

IBUMU

Al-Kabair, Imam Adz-DzabaiIbumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan seolah-olah sembilan tahun.  Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya.  Dan dia telah menyusuimu dengan air susunya dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu.
Dan dia cuci kotoranmu dengan tangan kanannya, dia utamakan dirimu atas dirinya serta atas makanannya.  Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu.  Dia telah memberikanmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya.
Dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu dan seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suara yang paling keras.
Betapa banyak kebaikan Ibu, sedang engkau balas dengan sikap yang tidak baik. Dia selalu mendoakanmu baik diam-diam atau terang-terangan.
Tatkala Ibumu membutuhkanmu disaat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang tak berharga disisimu
Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar, Engkau puas dalam keadaan dia haus.
Dan engkau mendahulukan berbuat baik kepada suami, istri dan anak-anakmu daripada Ibumu, dan engkau lupakan segala kebaikan yang pernah dia buat!

BELANJA : ANTARA SUNDA DAN JAWA

Himawan Wijanarko
Lima belas tahun silam saya berbincang dengan seorang eksekutif pengelola departemen store yang membandingkan perilaku konsumennya di kota Bandung, Surabaya dan Yogyakarta. Dia mengamati, walaupun kota Bandung secara ekonomi potensinya di bawah Surabaya, tetapi untuk urusan fashion lebih trendi dibandingkan dengan Surabaya, apalagi Yogyakarta. Alhasil omset gerai dan kecepatan perpindahan mode di Bandung jauh lebih cepat dari kedua kota tersebut. Itu gambaran perilaku belanja 15 tahun silam. Bagaimana sekarang? Ada penelitian menarik yang berasal dari disertasi Arief Helmi yang meneliti konsumen etnis Sunda di Bandung dan etnis Jawa di Surabaya.
Pertama yang diperbandingkan adalah kebersamaan. Kebersamaan menunjukkan pentingnya menjadi anggota kelompok, solidaritas kelompok dan intensitas hubungan seseorang sebagai anggota suatu kelompok dengan kelompok lainnya. Pentingnya kebersamaan ditandai dengan banyaknya waktu yang dihabiskan seseorang bersama kelompok sosialnya seperti teman atau keluarga. Ternyata kedua etnis ini mengganggap sangat penting.
Kebersamaan berarti juga menunjukkan adanya kekompakan suatu usaha untuk memiliki kebersamaan bersikap, dalam berpendapat maupun bertindak. Seseorang yang menganggap penting nilai ini akan cenderung menyelaraskan sikapnya dan berusaha meminimumkan adanya perbedaan dengan kelompoknya. Walaupun kedua etnis penganut nilai ini, orang Jawa lebih pekat nilai kebersamaannya. Inilah karakter budaya kolektifis. Menghargai keanggotaannya dalam kelompok, sangat menghargai proses dan keputusan kelompok, dan berharap anggota kelompok lainnya membantu pada saat krisis. Keharmonisan kelompok adalah prioritas utama.

10 KIAT SUKSES BERKENCAN BAGI PARA WANITA

Yahoonews
Butuh saran agar bisa sukses berkencan? Kami menghadirkan beberapa kiat sukses dalam berkencan, meliputi apa yang perlu Anda pakai, apa yang perlu Anda lakukan, hingga apa yang perlu Anda katakan ketika kencan.
1.        Pakai baju merah
Saat Anda mencoba mencari baju di lemari pakaian, pastikan itu bukan sekadar untuk menutupi diri, namun juga menunjukkan pada pasangan bahwa Anda benar-benar seorang wanita yang pintar dan seksi. Bagi para pria, warna merah merupakan simbol dari keseksian dan romansa. Para peneliti berdebat, mengapa para pria lebih sering melihat warna merah sinonim dengan hasrat, namun berdasarkan penelitian, seorang wanita berbaju merah akan terlihat lebih menarik.
2. Perluas wawasan
Kita semua pasti tahu bahwa para pria, memiliki sedikit waktu untuk mengobrol. Mereka tidak ingin terlibat pembicaraan mengenai teman-teman Anda, kucing Anda, atau gosip tentang seorang wanita yang melahirkan. Untuk memulai obrolan saat berkencan, bacalah surat kabar, tontonlah berita, dan ikuti berita-berita hiburan. Lalu obrolkan sebuah acara baru, sebuah band baru, atau sebuah film panas. Dengan begitu, Anda akan terlibat dalam percakapan yang asyik.
3. Hindari hal negatif
Supaya sukses berpacaran, Anda harus melupakan masa lalu dan menjadi seseorang yang berani. Jika salah seorang teman Anda menyebalkan, atau Anda punya masa lalu yang buruk dengan pasangan sebelumnya, cobalah menghindari mereka. Anda perlu berpikiran positif saat memulai sebuah hubungan baru, dan ingatlah bahwa pria yang baru ini bukanlah sang mantan.
4. Rasio pinggang dan pinggul
Cantik adalah impian semua orang, kita semua bahkan rela mengahbiskan banyak waktu untuk bisa menjadi cantik. Namun, pernahkah Anda mengambil kalkulator dan mencoba membuat rasio daya tarik Anda? Jika belum, maka jangan khawatir, karena kami telah membuatkannya untuk anda. 
Mereka menemukan bahwa, para pria lebih memilih wanita dengan rasio pinggang terhadap pinggul, sebesar 0,7. Untuk menghitungnya, mudah saja. Ukuran pinggang dibagi ukuran pinggul, itulah dia rasionya. Jika Anda tidak mencapai angka 0,7 maka belilah sebuah ikat pinggang.

MENGUKUR REPUTASI PERUSAHAAN

Jakarta Consulting Group
Belakangan ini makin banyak perusahaan di Indonesia bergiat dalam mengelola reputasinya. Tidak bisa dipungkiri, apa yang terjadi dengan Enron, Arthur Andersen, Merrill Lynch, General Electric dan WorldCom menjadi pemicu yang mendatangkan hikmah akan pentingnya mengelola reputasi perusahaan.

Hanya saja, ada beberapa catatan penulis menyikapi fenomena yang terjadi di lapangan. Ada kecenderungan bahwa perusahaan melihat reputasi perusahaan lebih berdasarkan persepsi internal. Akibatnya, perusahaan terjebak dalam perspektif yang menyesatkan. Lantas, apa yang harus dilakukan untuk dapat mengelola reputasi dengan baik dan benar?

Dalam hal ini ada adagium yang menyatakan bahwa “You can’t manage what you can’t measure”. Dengan demikian, untuk dapat mengelola reputasi secara baik diperlukan pengukuran reputasi. Proses ini jika dilakukan secara baik akan dapat menunjukkan bagaimana reputasi perusahaan jika dibandingkan dengan reputasi pesaing. Selain itu pengukuran reputasi perusahaan juga dapat menunjukkan sektor dan stakeholder mana saja yang perlu diprioritaskan untuk dibenahi. Secara umum hasil pengukuran ini juga berfungsi sebagai road map bagi proses pengelolaan reputasi itu sendiri.

Bisa dimaklumi bahwa untuk mengukur reputasi secara ideal tidaklah mudah dan diperlukan keahlian khusus. Wajar jika beberapa perusahaan melakukan pengukuran reputasi dengan pendekatan yang lebih sederhana. Misalnya dengan melihat media coverage untuk kemudian menerjemahkan isinya ke dalam reputation score cards. Memang opsi ini lebih baik daripada tidak ada action evaluasi sama sekali, walaupun opsi ini bukannya tanpa kelemahan. Kalau diperhatikan secara lebih seksama akan tampak betapa pendekatan ini lebih fokus kepada merekam outcome dari aktivitas humas di media, sedangkan pengaruhnya terhadap khalayak sasaran luput dari pengukuran. Apalagi jika dikaitkan dengan peran aktual bagian humas yang di lapangan tidak jarang hanya berperan sebagai penyampai, sekedar gula-gula, pemadam kebakaran, atau justru kambing hitam, bukan sebagai pengambil keputusan.

CUSTOMER CARE

CUSTOMERS ARE NO MORE OBJECTS BUT SUBJECTS
Tough competition has made the customers as subjects. As the subject, they emphasize companys products and services on values, interests and necessities that are based on the available data, opinions, and references from other people and from their own experience. They will compare the products and services with the competitors, and use the information to make decision.
DYNAMIC POSITIONING
To obtain a solid position in the competition is definitely not easy. Nowadays, a traditional strategic positioning is not enough to face tough competition. One factor that is frequently neglected by the marketers is a relationship with customers. For this reason, JCG has developed a new model called a dynamic positioning.

A company implements the dynamic positioning by establishing the corporate plannings and assembling the whole components to the market. These plannings are part of the entire organizational activities and actually influence every aspect of the company, such as: Corporate ImageProduct Planning Marketin Financial Health

CUSTOMER CARE IS CRITICAL

Nowadays, many executives and business circles have realized that customers decision is the main prerequisite for the continuity of the corporate. Companies must consider how to create not only satisfied but also loyal customers. Therefore, customer care becomes vital in organizational development.

ANALISA TITIK KONTAK BRAND MAKSIMALKAN BRAND EXPERIENCE

Daniel Surya & Edy Galaxy
SEIRING makin ketatnya persaingan,banyak brand menghadapi perubahan signifikan dalam menghadapi perilaku costumer dan hal ini memicu titik kontak (touchpoints) sebuah brand semakin variatif.

Touchpoints ini memungkinkan terjadinya kontak antara costumer dengan sebuah brand, termasuk di dalamnya penggunaan produk, iklan, toko, pegawai, lingkungan, hingga segala bentuk komunikasi brand. Makin banyak touchpoints dalam sebuah costumer journey, makin banyak pula interaksi yang dapat diciptakan antara costumer dengan brand.

Interaksi yang baik akan menciptakan costumer experience yang berkesan,sehingga meningkatkan preferensi costumer dan meningkatkan loyalitas terhadap brand tersebut. Costumer experience yang baik dapat diciptakan dengan memaksimalkan tiap titik brand touchpoint di mana tercipta interaksi dengan brand tersebut. Brand touchpoint dapat dikembangkan sesuai dengan esensi brand tersebut.

 Salah satu metode yang sering diterapkan adalah dengan memanfaatkan implementasi sensory branding. Sensory branding adalah sebuah metode pemasaran yang melibatkan rangsangan sensorik pancaindra seperti bau,suara, dan tekstur untuk membangun sebuah brand yang mampu memberikan pengalaman (costumer experience) yang lebih berkesan terhadap costumer-nya daripada teknik pemasaran visual branding yang konvensional.

Saat ini semakin banyak kita temukan brand yang mulai menerapkan metode tersebut sebagai bagian dari strategi pemasaran dalam membangun brand image di benak konsumen. Manusia memiliki kemampuan untuk merespons stimulan yang diberikan padanya. Tidak hanya sebatas dalam bentuk visual saja, tapi juga dalam hal rasa, aroma, tekstur, dan bunyi,yang di mana semuanya terangkum dalam sistem pancaindra.

Metode pemasaran tradisional yang hanya fokus di visual diyakini belum cukup kuat untuk membentuk preferensi yang kuat terhadap brand tersebut. Dengan melibatkan aroma, suara, rasa dan tekstur untuk membangun customer experiences, pemasar menemukan metode baru dalam membangun hubungan yang lebih erat antara sebuah brand dengan costumer-nya, dan menciptakan preferensi brand yang kuat.

KESALAHAN UMUM DALAM MENGIRIMKAN CV PADA LULUSAN BARU

Puteri Fatia | Yahoo She
Curriculum vitae adalah representasi diri. Tetapi para lulusan baru sering mengirim CV yang bikin geleng-geleng kepala. Karena kurang referensi, mereka kerap melakukan kesalahan yang tidak disadari. Memang tidak mutlak membuat mereka ditolak, tetapi memperkecil peluang diterima.
Nah, jika Anda seorang lulusan baru yang sedang berburu kerja dan tidak kunjung mendapat panggilan, jangan-jangan Anda melakukan beberapa kesalahan ini.
FOTO Jika perusahaan mensyaratkan foto dalam lamaran kerja, pilihlah foto yang membuat Anda terlihat profesional. Jangan pakai foto yang diambil dari Facebook hanya karena Anda tampil menarik (atau seksi). Bagaimana Anda mau dianggap serius bila foto yang dilampirkan terlihat main-main dan hasil crop?Umumnya perekrut lebih menyukai foto yang simpel. Pergilah ke studio foto dan bikin satu foto yang bagus – untuk investasi Anda ketika melamar pekerjaan.
ALAMAT EMAIL.  Hmm, alamat email sepertiinacuantixxbanget@yahoo.com atau romisayangchika@ymail.comsepertinya kurang menarik jika dipajang di CV. Anda kan sedang melamar pekerjaan di suatu perusahaan jadi sebaiknya hindari alamat email yang terlalu personal. Buatlah satu akun email dengan nama asli Anda untuk keperluan resmi. Jangan sampai Anda kalah bersaing dengan pelamar lainnya hanya karena alamat email Anda menggelikan.
INFORMASI YANG TEPAT.  Jangan kirim CV yang persis sama ke semua perusahaan. Usahakan “jahit” terlebih dahulu setiap kali Anda melamar. Beri penekanan pada prestasi atau keahlian yang relevan dengan posisi incaran. Tidak perlu mencantumkan prestasi “pemenang lomba karaoke” bila memang posisi yang Anda inginkan tidak membutuhkan keahlian bernyanyi.  Informasi pendidikan juga cukup dimulai dari SMA saja, tidak perlu taman bermain dan TK. Intinya, tekankan pada informasi yang bisa menunjukkan Anda orang yang tepat untuk posisi ini.

Minggu, 10 Juni 2012

ANTARA KOPI DAN CANGKIR


Sekelompok alumni sebuah universitas mengadakan reuni di rumah salah seorang profesor favorit mereka yang dianggap paling bijak dan layak didengarkan. Satu jam pertama, seperti umumnya diskusi di acara reuni, diisi dengan menceritakan (baca: membanggakan) prestasi di tempat kerja masing-masing. Adu prestasi, adu posisi dan adu gengsi, tentunya pada akhirnya bermuara pada berapa $ yang mereka punya dan kelola, mewarnai acara kangen-kangenan ini. Jam kedua mulai muncul guratan dahi yang menampilkan keadaan sebenarnya. Hampir semua yang hadir sedang stres karena sebenarnya pekerjaan, prestasi, kondisi ekonomi, keluarga dan situasi hati mereka tak secerah apa yang mereka miliki dan duduki. Bahwa dolar mengalir deras, adalah sebuah fakta yang terlihat dengan jelas dari mobil yang mereka kendarai serta merek baju dan jam tangan yg mereka pakai.

Namun di lain pihak, mereka sebenarnya sedang dirundung masalah berat, yakni kehilangan makna hidup. Di satu sisi mereka sukses meraih kekayaan, di sisi lain mereka miskin dalam menikmati hidup dan kehidupan itu sendiri. They have money but not life Sang profesor mendengarkan celotehan mereka sambil menyiapkan. seteko kopi hangat dan seperangkat cangkir. Ada yang terbuat dari kristal yang mahal, ada yang dari keramik asli Cina oleh-oleh salah seorang dari mereka, dan ada pula gelas dari plastik murahan untuk perlengkapan perkemahan sederhana. ‘Serve yourself,’ kata profesor, memecah kegerahan suasana. Semua mengambil cangkir dan kopi tanpa menyadari bahwa sang profesor sedang melakukan kajian akademik pengamatan perilaku, seperti layaknya seorang profesor yang senantiasa memiliki arti dan makna dalam setiap tindakannya.

‘Jika engkau perhatikan, kalian semua mengambil cangkir yang paling mahal dan indah. Yang tertinggal hanya yang tampaknya kurang bagus dan murahan. Mengambil yang terbaik dan menyisakan yang kurang baik adalah sangat normal dan wajar. Namun, tahukah kalian bahwa inilah yang menyebabkan kalian stres dan tidak dapat menikmati hidup?’ sang profesor memulai wejangannya. ‘Now consider this: life is the coffee, and the jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided,’ kali ini kalimatnya mulai menekan hati. ‘So, don't let the cups drive you, enjoy the coffee instead,’ demikian ia berkata sambil mempersilakan mereka menikmati kopi bersama. Sewaktu membaca e-mail yang dikirim rekan saya Ucup, begitu panggilan akrabnya, saya ikut tertegun. Sesederhana itu rupanya. Profesor yang bijak selalu membuat yang sulit jadi mudah, sedangkan politikus selalu membuat yang mudah jadi sulit. Betapa banyak di antara kita yang salah menyiasati hidup ini dengan memutarbalikkan kopi dan cangkir. Tak jelas apa yang ingin kita nikmati, kopi yang enak atau cangkir yang cantik.

Selasa, 05 Juni 2012

KOMUNIKASI PENUGASAN DI MILENIUM BARU


Jakarta Consulting Group
“Peraturan di perusahaan ini ada dua. Peraturan No. 1 bos tidak pernah salah. Peraturan No. 2, jika bos melakukan kesalahan lihat peraturan No. 1.” Seloroh berbau satire ini sangat terkenal, untuk menyampaikan sikap kritis bawahan yang merasa tersumbat.
Namun angin demokratisasi yang dibawa dari negeri Paman Sam, juga merasuk dalam dalam individu-individu anggota organisasi melalui sikap yang berlandaskan nilai-nilai egaliterianisme. Mereka memandang atasan sebagai “manusia biasa” seperti dirinya yang kebetulan posisinya dalam struktur organisasi lebih tinggi dari dirinya.
Di tengah merebaknya nilai-nilai demokratis dan egaliter, konsep-konsep yang mendukung organisasi dalam mengelola anggotanya ikut berubah. Kecenderungan ini ditimpa oleh pesatnya teknologi informasi, yang menyebabkan pola komunikasi dan interaksi dalam organisasi ikut mengalami perubahan.
Salah satu yang harus ditata kembali dalam konteks kecenderungan ini adalah komunikasi penugasan. Karena komunikasi penugasan adalah urat nadi organisasi yang bertugas menggerakkan roda organisasi. Celakanya, yang namanya komunikasi penugasan selalu berarti sebagai komunikasi downward, yang sedang mengalami tantangan berat dalam kehidupan demokratis. Masyarakat luas sedapat mungkin mengurangi komunikasi model ini. Padahal organisasi tidak akan dapat berjalan dengan baik tanpa komunikasi atasan – bawahan yang berintikan perintah, instruksi, penjelasan, dan distribusi informasi sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
Bagaimana cara untuk menyusun penugasan dalam “bahasa” dan cara yang lebih egaliter merupakan tantangan bagi manajer/atasan di tengah sikap kritis para bawahan.  Pemahaman yang mendalam terhadap tugas yang akan dikomunikasikan menjadi persyaratan utama, agar selalu siap untuk menghadapai pertanyaan kritis dari bawahan. Sikap kritis ini sudah menjadi ciri bawahan era milenium, dan bukannya bermaksud untuk “menjatuhkan” atasan.

ANALISA TITIK KONTAK BRANDMAKSIMALKAN BRAND EXPERIENCE


SEIRING makin ketatnya persaingan,banyak brand menghadapi perubahan signifikan dalam menghadapi perilaku costumer dan hal ini memicu titik kontak(touchpoints) sebuah brand semakin variatif.
Touchpoints ini memungkinkan terjadinya kontak antara costumer dengan sebuahbrand, termasuk di dalamnya penggunaan produk, iklan, toko, pegawai, lingkungan, hingga segala bentuk komunikasi brand. Makin banyak touchpoints dalam sebuahcostumer journey, makin banyak pula interaksi yang dapat diciptakan antaracostumer dengan brand.
Interaksi yang baik akan menciptakan costumer experience yang berkesan,sehingga meningkatkan preferensi costumer dan meningkatkan loyalitas terhadap brand tersebut. Costumer experience yang baik dapat diciptakan dengan memaksimalkan tiap titik brand touchpoint di mana tercipta interaksi denganbrand tersebut. Brand touchpoint dapat dikembangkan sesuai dengan esensi brandtersebut.
 Salah satu metode yang sering diterapkan adalah dengan memanfaatkan implementasi sensory branding. Sensory branding adalah sebuah metode pemasaran yang melibatkan rangsangan sensorik pancaindra seperti bau,suara, dan tekstur untuk membangun sebuah brand yang mampu memberikan pengalaman(costumer experience) yang lebih berkesan terhadap costumer-nya daripada teknik pemasaran visual branding yang konvensional.
Saat ini semakin banyak kita temukan brand yang mulai menerapkan metode tersebut sebagai bagian dari strategi pemasaran dalam membangun brand image di benak konsumen. Manusia memiliki kemampuan untuk merespons stimulan yang diberikan padanya. Tidak hanya sebatas dalam bentuk visual saja, tapi juga dalam hal rasa, aroma, tekstur, dan bunyi,yang di mana semuanya terangkum dalam sistem pancaindra.
Metode pemasaran tradisional yang hanya fokus di visual diyakini belum cukup kuat untuk membentuk preferensi yang kuat terhadap brand tersebut. Dengan melibatkan aroma, suara, rasa dan tekstur untuk membangun customer experiences, pemasar menemukan metode baru dalam membangun hubungan yang lebih erat antara sebuah brand dengan costumer-nya, dan menciptakanpreferensi brand yang kuat.
Selain visual, contoh sensori brand untuk aroma adalah aroma kopi yang dapat kita cium di Starbucks, atau di aroma khas yang ada di Roti Boy. Contoh untuk sensoribrand suara, dapat berupa jingle musik (Indomie, Walls,atau Intel).Contoh untuk sensori sentuhan,dapat berupa pemilihan tekstur kertas pada buku menu atau tekstur kayu yang dapat ditemukan di interior kafe.Contoh untuk sensori rasa, dapat dirasakan dari citarasa makanan di sebuah restoran.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum mengimplementasikan sensory branding. Yang pertama adalah mengidentifikasi positioning, dan esensi dari brandtersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan riset,mengevaluasi market brand tersebut, dan positioning-nya. Hasil evaluasi ini dapat dijadikan sebagai acuan untuk mengembangkan stimulan indera.
Sebagai contoh, jika konsep positioning-nya didasari pada esensi “kesegaran”, ini akan mengarah pada pemilihan pewangi beraroma buah,sensasi dingin,tapi tidak ke sensasi aroma terapi. Manajer dari bagian tertentu bisa terlibat dan menjadi pengambil keputusan dalam proses ini. Sebagai contoh, dalam kasus bisnis perhotelan, arsiteknya bisa membantu dalam pemilihan warna, tekstur dan jenis material
Sehingga, stimulan sensori yang dirancang masih cocok dengan market, positioning-nya, dan tentunya esensi brand tersebut. Yang terakhir adalah menganalisa costumer journey, dan mencari tahu dari titik awal touchpoints di mana costumer mulai berinteraksi dengan brand hingga ke titik akhir touchpoints.
Stimulan sensori yang dirancang, dapat kemudian diimplementasikan dengan konsisten di semua touchpoints tersebut, agar dapat tercipta benang merah. Hal ini sangat esensial, terutama pada bisnis ritel di mana konsisten menjadi sangat penting.
Demikianlah, merancang sebuah brand kini tidak lagi hanya mengandalkan aspek visual belaka,beberapa contoh telah menjelaskan bagaimana brand itu bisa didengarkan (jingle,musik), disentuh (tekstur, material), dicium (aroma, parfum), dan juga di rasakan (pedas, asam, manis, asin, pahit).
Dengan demikian, maka costumer dapat merasakan holistic brand experience dari setiap touchpoint. Good brand experience akan membuat brand tersebut selalu diingat di benak konsumen.

Daniel Surya & Edy Galaxy

BERHENTILAH MENJADI GELAS


Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.
"Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?" sang Guru bertanya.
"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya," jawab sang murid muda.
Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu." Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.
"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas airitu," kata Sang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit." Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.
"Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru.
"Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.
Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.
"Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau." Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.
"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.
Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, "Bagaimana rasanya?"
"Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.
"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"
"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.
"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah."
Si murid terdiam, mendengarkan.
"Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau.





http://agussupriatna.com/motivasi/berhentilah-menjadi-gelas
 

Download Templates